KESENIAN WAYANG DI PULAU JAWA

0 komentar

kesenian wayang jawa indonesia
KESENIAN TRADISIONAL INDONESIA
Wayang merupakan salah satu kesenian Tradisional asli Indonesia yang berkembang pesat didaerah pulau jawa dan Bali, Kesenian serupa  juga bisa kita dapati dibeberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya yang terpengaruh Kebudayaan Jawa dan Hindu. Istilah Wayang sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Bayangan, Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.



Kesenian Wayang memiliki beberapa jenis yakni Wayang Kulit atau Purwa, Wayang Klithik, Wayang Golek dan Wayang Orang. dan terdiri dari beberapa perangkat untuk memperagakan Ceriteranya, biasanya dibawakan oleh Seorang Dalang yang memimpin jalannya pertunjukan dengan dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya. seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.

Dalam Pertunjukan Wayang dikenal set kanan dan set kiri. Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan. Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam. biasanya lama pertunjukan untuk satu lakon memakan waktu sekitar 7 sampai 8 jam. Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro. vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih. Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara "koor". Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong.

Jenis wayang sangat mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut. Seperangkat wayang kulit hanya bisa memainkan ceritera ceritera dari Mahabarata atau Ramayana dan tidak bisa apabila dipakai untuk mempertunjukan Babad Menak, demikian pula untuk jenis - jenis Kesenian Wayang Lainnya, seperti Wayang Golek yang tidak mungkin melakonkan ceritera Mahabrata. didalam masyarakat Tradisional yang umumnya masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhur, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang. Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan. Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan. Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah "Kondure Dewi Sri" (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala.

Mengenai Sejarah Kesenian Wayang di Indonesia, Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono yang berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas /peralatannya yang serba sederhana yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya. kesenian ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju "Hyang", dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya. Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.

Upacara semacam ini diperkirakan timbul sejak jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM. tetapi masih belum ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan lokal dan kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi si Galigi mawayang.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu. Pertunjukan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata. Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukan yang ditonton hanyalah bayangannya saja. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam, adapun Ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto, SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik, ia mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab.

Demikian artikel mengenai Kesenian Wayang di Pulau Jawa yang dalam kurun waktu cukup lama kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan. untuk informasi detail mengenai jenis-jenis Wayang seperti Wayang Kulit/ Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang Orang. insyaalloh akan dibuatkan artikel tersendiri. Terima Kasih


SEJARAH PERKEMBANGAN KESENIAN WAYANG DI PULAU JAWA

Artikel Seni dan Budaya

ZABHIE SITES


KESENIAN WAYANG DI PULAU JAWA

Urang-kurai